Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.

PULAU KAGET, POTENSI LAHAN BASAH SEBAGAI KAWASAN CAGAR ALAM DAERAH DI MUARA SUNGAI BARITO, KALIMANTAN SELATAN

0 Comments »

TUGAS

PENGENALAN LINGKUNGAN LAHAN BASAH

(PLLB)



NAMA : M. AGUS SAPUTRA
NIM : J1D108204
PRODI : FISIKA



Provinsi Kalimantan Selatan secara geografis, terletak di antara 114 19' 13'' - 11633' 28'' Bujur Timur dan 1 21' 49'' – 4 10' 14''Lintang Selatan. Secara administratif, Provinsi Kalimantan Selatan terletak dibagian selatan Pulau Kalimantan dengan batas-batas : sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah, sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa dan sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. Berdasarkan letak tersebut, luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan secara keseluruhan.

Secara administratif wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan kota Banjarmasin sebagai ibu kotanya, meliputi 11 kabupaten dan 2 kota. Kabupaten terbaru adalah Kabupaten Tanah Bumbu (pecahan Kabupaten Kotabaru) dan Kabupaten Balangan (pecahan Kabupaten Hulu Sungai Utara). Persentase luas tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru (25,11%), Kabupaten Tanah Bumbu (13,50%) dan terendah adalah Kota Banjarmasin (0,19%) dan Kota Banjarbaru (0,98%).

Bentuk geologi wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berupa Aluvium Mudadan Formasi Berai. Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31persen wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut :• 0-2% : 1 625 384 Ha (43,31%)• >2-15% : 1 182 346 Ha (31,50%)• >15-40% : 714 127 Ha (19,02%)• >40% : 231 195 Ha (6,16%) Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian >25 -100 m diatas permukaan laut yakni 31,09 persen. Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak memiliki beberapa kawasan cagar alam daerah yang merupakan kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Maka dari hal tersebut salah satu wilayah cagar alam di Kalimantan Selatan yaitu di daerah muara Sungai Barito yang cagar alamnya memiliki suatu potensi dan wilayah yang cukup luas serta sangat khas habitatnya didalam suatu ekosistemnya. Dikawasan cagar alam ini sering disebut juga dengan Pulau kaget.

Pulau kaget merupakan salah satu objek wisata yang berada dikawasan hutan di kabupaten Barito Kuala. Pulau ini adalah sebuah delta yang terletak didekat muara Sungai Barito. Pulau ini merupakan habitat bagi monyet berhidung panjang atau oleh penduduk setempat disebut dengan kera belanda/bekantan (Nasalis larvatus), karena hidungnya panjang,mukanya merah dan perunya gendut.

Gambar 1.1 Pulau Kaget dikawasan muara Sungai Barito

Pulau Kaget merupakan sebuah delta yang luasnya kurang lebih 200 ha dan terletak di muara Sungai Barito. Sebagian dari pulau ini (yaitu 85 ha) ditetapkan menjadi Cagar Alam (CA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 701/Kpts/Um/11/1976 tanggal 6 Nopember 1976 jo. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 337/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999. Dengan penetapan ini, CA Pulau Kaget merupakan salah satu dari 3 cagar alam di Provinsi Kalimantan Selatan (catatan: cagar alam lainnya adalah CA Gunung Kentawan dan CA Teluk Kelumpang, Selat Laut, Selat Sebuku).










Gambar 2 Daerah cagar alam Pulau Kaget


Kawasan ini secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kecamatan Tabunganen. Waktu tempuh dari Kota Banjarmasin menuju lokasi adalah ± 15 menit dengan memakai transportasi air (speed boat), atau ± 1,5 jam dengan memakai trasportasi air (kelotok). Secara atronomis, Pulau kaget terletak di koordinat 3 24 12 S Logitude : 114 28 38 E. Pulau Kaget memilki luas sebesar 85 ha.

Dengan dijadikannya bekantan sebagai maskot daerah Kalimantan Selatan. Maka pulau kaget sebagai habitat bekantan mempunyai nilai strategis baik sebgai simbol daerah maupun sebagai tempat objek wisata. Oleh karena menjadi habitat yang dilindungi dan menjadi simbol daerah, maka cagar alam/pulau kaget menjadi salah satu tujuan wisata alam. Tidak saja Kalimantan Selatan dan daerah lain di Indonesia tetapi juga Manca Negara.

Tidak hanya itu, Pulau Kaget terdapat beberapa jenis pohon dan tumbuhan seperti:

1. Rambai (Soneratia casiolaris)

2. Bakau (Rhizophora Sp.)

3. Api-api (Avicenia Sp.)

4. Nipah (Nipa fraticans)

5. Bakung (Crinum asiaticum)

6. Piai (Acrosticum aureum)

7. Jeruju (Achantus ilicifolius)

8. Pandan (Pandanus tectorius)

9. Dll.


Jenis pohon yang paling dominan ialah Rambai dengan Indeks Nilai Penting (INP) 45,1898%, Bakau dan Api-api dengan INP masing-masing 1.6232% (dominan). Binatang yang menghuni Kawasan Cagar Alam Pulau Kaget terdiri dari 10 (sepuluh) jenis yang tergolong dalam dua kelas yaitu:

1. Mamalia

a. Bekantan (Nasalis larvatus)

b. Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

c. Lutung (Presbitis cristata)

2. Aves

a. Betet (Psittacula alexandri)

b. Elang Bondol (Haliadus indus)

c. Raja Udang (Halcyon choris)

d. Elang Laut (Inchthyophaga inchtyootus)

e. Burung Kipas (Rhipidura javanica)

f. Trucukan (Pynonotus goiavier)

g. Raja Udang Paruh Bangau (Pelargopsis capensis)

h. Bebek (Denrocygna arcuata)

i. Dll.


Jumlah populasi Bekantan yang ada sekitar 115 ekor dan Kera Ekor Panjang 6 ekor. Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis kera berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal kera Nasalis.

Gambar 3. Bakantan


Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari kera lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Kera betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai kera Belanda.

Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75cm dengan berat mencapai 24kg. Kera betina berukuran 60cm dengan berat 12kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengkonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Kalimantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 kera. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, terkadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain

Keberadaan Bekantan (Nasalis larvatus) di Cagar Alam Pulau Kaget banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan mulai dari sejak ditetapkannya Kawasan Cagar Alam Pulau Kaget sampai saat ini. Keterkaitan antara Bekantan dengan Pohon Rambai (Soneratia casiolaris) sangat sulit dipisahkan, karena daun dan buah pohon Rambai adalah merupakan makanan utama Bekantan. Selain itu pohon-pohon Rambai menjadi tempat istirahat/tidur Bekantan diwaktu malam dan tempat bermain serta mengasuh anak. Pertumbuhan pohon Rambai secara keseluruhan menunjukkan kondisi cukup baik, yang ditandai dengan daun yang menghijau dan rimbun sepanjang tahun.

Sebelum tahun 1995, vegetasi CA Pulau Kaget didominasi oleh rambai (Sonneratia caseolaris), salah satu tumbuhan mangrove yang akarnya mencuat vertikal dari permukaan tanah. Karena daun dan buah rambai merupakan pangan utama bagi bekantan (Nasalis larvatus), tidak mengherankan apabila kemudian CA Pulau Kaget dikenal sebagai surganya bekantan.

Pulau Kaget dan bekantan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan serta menjadi merek dagang Kalimantan Selatan dalam kepariwisataan internasional. Primata berhidung mancung dan endemik Borneo ini mudah sekali dijumpai. Apabila menyusuri pulau dengan klotok (perahu bermotor), kita dengan mudah menyaksikan perilaku alami bekantan, seperti makan daun dan buah rambai, tidur di atas cabang atau ranting, berloncatan dari satu dahan ke dahan lain, atau bahkan terjun dari ketinggian 15 m ke permukaan tanah atau air.

Keadaan demikian berubah sama sekali, setelah peranggasan rambai terjadi. Hampir semua rambai yang tumbuh di daratan dan tepian cagar alam mati. Pemandangan alami menjadi membosankan. Yang tampak dominan adalah pepohonan rambai yang kering kerontang. Walaupun populasi bekantan mencapai 304 ekor (Soendjoto et al., 1998a), perilaku khasnya berangsur-angsur tidak bisa dinikmati. Bekantan ini hanya dapat dijumpai di lantai hutan. Akibatnya, industri kepariwisataan Kalimantan Selatan pun anjlok.

Terdapat dua faktor yang diduga menjadi penyebab peranggasan, yaitu musim kemarau yang panjang dan pencemaran air dari berbagai industri yang ada di sepanjang Sungai Barito. Namun, Soendjoto et al. (1998b) menyatakan bahwa penyebab peranggasan tanaman rambai adalah kelebihan populasi (overpopulation) primata dan sekaligus ketidakmampuan rambai untuk memulihkan diri.

Kompilasi data oleh Soendjoto et al. (1998b) menunjukkan adanya peningkatan populasi bekantan. Pada tahun 1984 terdapat 229 ekor bekantan, pada tahun 1992 terdapat 207 ekor, dan pada tahun 1997 terdapat 304 ekor. Pada tahun 1997 ini tercatat juga primata lain, yaitu lutung Trachypithecus cristatus sebanyak 78 ekor dan monyet ekor panjang Macaca fascicularis 22 ekor (Soendjoto et al., 1998a). Apabila jumlah pakan bekantan 900 g/hari (Soerianegara et al., 1994) dan diasumsikan jumlah pakan kedua primata lainnya sama dengan jumlah pakan bekantan ini, maka jumlah pakan bagi semua primata yang ada di Pulau Kaget adalah 363,6 kg/hari.

Tampaknya jumlah pakan ini tidak dapat dicukupi oleh rambai. Masalahnya, hijauan rambai yang tersedia paling sedikit harus dua kali lipat (atau sekitar 730 kg/hari). Pada sisi lain, rambai yang ada di Pulau Kaget tidak dapat pulih dengan cepat karena adanya gangguan dan masalah fisiologi lainnya (Soendjoto et al., 1998b). Akar rambai terganggu, karena dipotong oleh masyarakat untuk diolah jadi bonggol kok dan tutup botol. Pernafasan oleh akar terhambat, karena adanya penutupan oleh eceng gondok dan lumpur yang semakin menumpuk. Rambai tidak mampu bersaing dengan tumbuhan bawah air untuk memperoleh unsur hara.

Tumbuhan bawah air yang mulai mendominasi daratan CA Pulau Kaget antara lain adalah piai (Acrostichum aureum), nipah, dan bakung (Crinium asiaticum). Umur rambai sudah tua dan peregenerasian tampaknya tidak normal. Di cagar alam ditemukan 51,05% populasi rambai tingkat semai, 1,81% tingkat pancang, 1,70% tingkat tiang, dan sekitar 45% rambai yang berumur 20 tahun ke atas. Semua rambai tingkat semai ini pun hanya tumbuh di tepi cagar alam yang langsung berbatasan dengan air Sungai Barito.

Untuk menyelamatkan bekantan, Departemen Kehutanan mengambil langkah tegas. Pada akhir tahun 1998 sekitar 150 ekor bekantan dievakuasi ke Pulau Jawa (Kebun Binatang Surabaya) dan ke pulau-pulau di Sungai Barito (Pulau Bakut, Pulau Kembang, Pulau Tempurung).

Pada saat ini, perubahan ke arah positif mulai tampak. Ketika pada tanggal 2 Mei 2004 penulis dan crew salah satu TV swasta mengelilingi Pulau Kaget dengan klotok, penulis cukup gembira dan memperoleh harapan baru. Pulau Kaget mulai bersemi. Walaupun di daratan CA Pulau Kaget tidak dijumpai lagi pepohonan rambai, di sepanjang tepi pulau mulai dari bagian utara, barat, selatan hingga tenggara terlihat pepohonan rambai yang mulai menghijau. Terdapat lebih dari 20 pohon rambai berdiameter di atas 20 cm. Rambai-rambai yang 8 atau 9 tahun lalu masih berada pada tingkat semai kini bertumbuh dan berkembang ke tingkat pancang (tinggi lebih dari 1,5 m) atau tingkat tiang (berdiameter sekitar 10 cm).

Harapan ini tentunya harus mulai disikapi bijaksana. Pertumbuhan rambai yang menggembirakan masih belum bisa disepadankan dengan harapan terhadap kelestarian bekantan. Apakah pepohonan rambai sudah mampu mendukung kelompok bekantan ini? Dan apakah bekantan yang dievakuasi perlu dikembalikan untuk membugarkan populasi yang tersisa di Pulau Kaget atau untuk menghindari terjadinya kawin antar-kerabat dekat (inbreeding).


Gambar 4. Suaka Margasatwa dan Cagar Alam Pulau KagetBekantan (Nasalis larvatus) sebelum tahun 1995 adalah primadona Pulau Kaget. (Foto: Dok. WI-IP).



Foto-foto dan Citra Satelit via Google Earth (pelengkap tugas mata kuliah PLLB, deskripsi lahan basah)





































































































































































































Daftar Pustaka :

M. Arief Soendjoto. 2004. Pulau Kaget Mulai Bersemi, Warta Konservasi Lahan Basah Vol.12 No. 3 Juli 2004. Wetlands Internasional : 5-8

Soendjoto, M.A., A. Yamani, M. Akhdiyat & Kurdiansyah. 1998a. Populasi Primata dan Keanekaragaman Jenis Satwa di Pulau Kaget. Kalimantan Selatan. Kalimantan Scientae (50) : 1-9

Soendjoto, M.A., A. Yamani, M. Akhdiyat & Kurdiansyah. 1998b. Telaahan Vegetasi dan Keadaanb Rambai (Sonneratia caseolaris) di Cagar Alam Pulau Kaget, Kalimantan Selatan. Kalimantan Scientae (49) : 51-62

Soerianegara, I., D. Sastradipradja, H.S. Alikodra & M. Bismark. 1994. Studi Habitat, Sumber Pakan, dan Perilaku Bekantan (Nasalis larvatus) sebagai Parameter Ekologi dalam Mengkaji Sistem Pengelolaan Habitat Hutan Mangrove di Taman Nasional Kutai. Bogor: Laporan Akhir Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB.


MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI

2 Comments »
NAMA : M. AGUS SAPUTRA
NIM : J1D108204
PRODI : S-1 FISIKA
DOSEN : PAK KRISDIANTO


TUGAS MATA KULIAH PENGENALAN LINGKUNGAN LAHAN BASAH
(MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI, KAITANNYA DENGAN KONSEP FISIKA DAN MENDUKUNG PRINSIP BIOLOGI)

“MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS), KAITANNYA
DENGAN POLA PEMBANGUNAN PEMUKIMAN DAN BANJIR SEBAGAI MASALAH BERKELANJUTAN”

Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. Oleh karenanya, DAS merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
DAS mempunyai arti penting terutama dalam hubungan ketergantungan antara hulu dan hilir. Perubahan komponen DAS di daerah hulu akan sangat mempengaruhi komponen DAS pada daerah hilirnya sehingga perencanaan pembangunan daerah hulu menjadi sangat penting dalam manajemen DAS secara keseluruhan..
Banjir merupakan permasalahan yang sudah biasa terjadi di DAS. Banjir terjadi akibat adanya perubahan sistem DAS yang kontinu dimulai dari wilayah upstream (hulu) - downstream (bagian tengah) – middlestream (hilir) yang signifikan. Menurut Sinukaban (2007), sebagai contoh adalah banjir yang biasa terjadi di Jakarta adalah karena penggunaan lahan di kawasan DAS Ciliwung tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah. Akibatnya, sebagian besar air hujan tidak terserap tanah, tetapi mengalir di permukaan tanah, lalu langsung masuk ke sungai. Sehingga banjir merupakan fenomena yang harus ditangani secara menyeluruh dalam suatu DAS.
Pada kenyataannya, pola tata ruang pada banyak DAS di berbagai wilayah Indonesia, termasuk juga di Kalimantan Selatan (DAS Barito) memang masih mengalami banyak masalah. Peningkatan alih fungsi lahan menjadi daerah pemukiman semakin meningkat sementara luas kawasan hutan sebagai penyangga DAS semakin terdegradasi dari tahun ke tahun sehingga terjadi konversi lahan yang semakin tinggi. Berdasarkan data terakhir, luas daerah permukiman sub-DAS secara rata-rata semakin meningkat dari tahun 1981 sebesar 5 % dan terakhir tahun 2001 sebesar 27 % (Hermawati, 2006).
Untuk kasus DAS Ciliwung, banyak pendatang, terutama dari Jakarta, yang membangun villa atau rumah peristirahatan di sana. Pembangunan-pembangunan tersebut menyebabkan daerah resapan air berkurang padahal curah hujan di Bogor termasuk tinggi. Selain adanya pembangunan rumah, baik rumah tinggal maupun villa, tingginya biaya hidup menyebabkan wilayah hutan di hulu sungai Ciliwung terancam.
Berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan konversi lahan mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah namun mengalir deras di batang sungai Ciliwung, dari hulu menuju hilir. Padahal, DAS Ciliwung di daerah hulu tidak terlalu lebar, apalagi jika ditambah dengan adanya penyempitan akibat pembangunan. Maka hal tersebut dapat menyebabkan air hujan meluap ke wilayah sekitar. Akhirnya banjir dan longsor di daerah hulu akan terjadi.
Di sisi lain, teknologi pengairan untuk daerah pemukiman di DAS Ciliwung sudah cukup canggih dengan menggunakan mesin pompa air (jet-pump). Ditambah lagi dengan kondisi pemukiman sangat padat terkonsentrasi di sekitar DAS, bahkan terdapat beberapa orang penduduk yang mendirikan rumah di bantaran sungai akibat semakin terbatasnya lahan untuk pemukiman. Dengan keberadaan pohon-pohon di sekitar DAS hulu Ciliwung wilayah bawah yang semakin sedikit, maka membuat tingkat penyerapan air menjadi buruk karena kepadatan pemukiman dalam bersaing menyerap air tanah yang ada.

DAS BARITO SEMAKIN KRITIS, 13 TITIK BERPOTENSI BANJIR
Sebagai perbandingan, kondisi DAS Barito juga semakin kritis akibat pembalakan hutan dan konversi penutupan lahan yang dulunya hutan menjadi permukiman dan pertambangan. Kondisi ini menyebabkan 13 titik di Kalsel berpotensi banjir. Terlebih saat curah hujan tinggi seperti sekarang ini. Kepala Balai Pengelolaan DAS Barito Kalsel, Eko Kuncoro mengungkapkan, 13 titik tersebut adalah Tabukan (Batola), Amuntai Selatan, Babibrik dan Sungai Pandan (HSU), hampir seluruh wilayah HSS, Kabupaten Banjar, Kintap, Bati-Bati, Pelaihari (Tala), Satui, Kelumpang dan Batulicin (Tanbu), Pulau Laut Selatan dan Pulau Laut Utara (Kotabaru).
Bencana banjir di sebagian wilayah Kalsel termasuk bencana alam yang hampir pasti terjadi pada setiap datangnya musim penghujan. Bencana banjir ini ditentukan oleh banyak hal yang merupakan bagian dari karakteristik wilayah dan masyarakat Kalsel itu sendiri. Pertama, karakteristik DAS dari aspek biogeofisikal yang mampu memberikan ciri khas tipologi DAS tertentu. Kedua, aspek meteorologis-klimatologis, terutama karakteristik curah hujan yang mampu membentuk badai atau hujan maksimum. Ketiga, aspek sosial ekonomi masyarakat, terutama karakteristik budaya yang mampu memicu terjadinya kerusakan lahan DAS, sehingga wilayah DAS tersebut tidak mampu lagi berfungsi sebagai penampung, penyimpan, dan penyalur air hujan yang baik (Kliping WALHI Kalsel, Desember 2008).
Sebagaimana kasus DAS Ciliwung di Jakarta, aktivitas di daerah hulu sering dituding sebagai penyebab utama terjadinya banjir. Seperti pada DAS Barito, daerah hulunya telah terjadi konversi penutup lahan yang cukup signifikan dari hutan ke tambang. Sehingga air hujan yang jatuh tidak akan ditangkap oleh kanopi dan diresapkan secara perlahan ke dalam tanah, lalu ditampung oleh akar. Tapi air langsung menjadi over land flow atau limpasan karena tanah tambang biasanya dikupas hingga ke batuan induknya (bed rock). Limpasan ini kemudian masuk ke alur sungai. Karena cukup banyak, maka tidak tertampung dan sebagian meluap, sehingga mengakibatkan banjir di beberapa daerah seperti Kabupaten Tabalong, Balangan bahkan hingga Hulu Sungai Utara.
Sebagaimana wilayah Kabupaten Banjar, potensi banjir juga diakibatkan oleh hujan yang turun terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga Waduk Riam Kanan akan semakin penuh. Guna menghindari jebolnya waduk yang cukup dimakan usia tersebut, dibukalah pintu-pintu air di daerah bawahnya. Akibatnya, Kecamatan Karang Intan dan Martapura akan tergenang, karena badan sungai tidak mampu menampung air tersebut (klipinglainnya.blogspot.com).
Sedangkan di Tanah Bumbu dan Tanah Laut, banjir berpotensi akibat adanya arus pasang air laut, sehingga air sungai dari hulu tidak akan lancar atau terhambat di muara sungai. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab bencana banjir di dearah ini.
Di Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan, ancaman banjir disebabkan Sungai Negara yang merupakan salah satu anak Sungai Barito telah mengalami pendangkalan yang cukup signifikan, sehingga kurang mampu lagi menampung air dari daerah hulu. Hal ini menyebabkan HSU dan sekitarnya akan tergenang bila sungai ini meluap.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Kliping WALHI Kalsel : DAS Barito Semakin Kritis, 13 Titik Berpotensi Banjir@ klipinglainnya.blogspot.com, diakses 27 Mei 2009.

Hermawati R. 2006. Pola Spasial Perkembangan Permukiman dan Kaitannya Dengan Jumlah Penduduk (Studi Kasus Sub DAS Ciliwung Hulu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

SOAL MIDDLE TEST PLLB

0 Comments »
MATA KULIAH PLLB
PROGRAM STUDI FISIKA RABU, 27 MEI 2009
DOSEN : PAK KRISDIANTO

1. Dalam siklus hodrologis, lahan basah mempunyai peran penting. Sebutkan dan jelaskan peran tersebut. Berikan penilaian terhadap lahan basah di Kalimantan Selatan, sampai sejauh mana keberadaan peran tersebut?

2. Curah hujan rata-rata tahunan di Meratus 1000 M liter/bulan, 80% menjadi air larian dan masuk ke berbagai sungai, di antaranya 1.800.000 liter/tahun mengalir melalui Sungai Riam Kiwa. Namun dari sungai ini hanya mampu mengairi 100 hektar lahan dengan masing-masing 9000 liter/tahun. Sisanya kembali terevaporasi dan evapotranspirasi. Dengan asumsi yang sama, berapakah peranan vegetasi dalam melakukan evapotranspirasi pada lima sungai lainnya, yakni Sungai Riam Kanan, Sungai Amandit, Sungai Batang Alai, Sungai Alabio, dan Sungai Tabalong jika perbandingan debit airnya sepanjang tahun 1 : 1 : 1 :1 : 1 ? Tentukan juga total transpirasi dan evapotranspirasi jika perbandingannya 1 : 2 !

3. Sebutkan perbedaan antara rawa lebak dan rawa pasang surut!

JAWABAN MIDDLE TEST MATA KULIAH PLLB PROGRAM STUDI FISIKA RABU, 27 MEI 2009

1 ). Peranan lahan basah dalam siklus hidrologis dapat dijelaskan sebagai berikut.
  • Sebagai pengontrol kualitas air, di mana lahan basah sebagai kawasan strategis yang memisahkan ekosistem daratan dengan ekosistem akuatik, sehingga dalam posisinya ini, lahan basah dapat mencegah air larian dari daratan dan menyaring bahan polutan dan sedimen sebelum masuk ke badan air. Fungsi ini didukung oleh vegetasi yang terdapat di kawasan lahan basah yang dapat memfilter substansi kimia tertentu sekaligus mengambil nutrisi dari tanaman mati yang berpotensi menurunkan kualitas air secara dominan pada ekosistem akuatik.
  • Sebagai pengisi air tanah, terutama dijalankan oleh dataran banjir, rawa air tanah, danau, lahan gambut, dan hutan rawa. Peran ini tidak hanya terbatas pada pengisian air tanah saja, tapi juga sekaligus menjadi tempat pelepasan air tanah sebelum menuju ke badan air (sungai permukaan). Antara kedua fungsi ini, perlu adanya keseimbangan dalam mekanismenya.
  • Sebagai habitat ikan dan organisme liar (wildlife). Pada fungsi ini, lahan basah merupakan tempat ideal bagi berkumpulnya berbagai macam hewan (ikan, burung, reptil, dan insekta) dan tumbuhan. Sebagian di antara mereka menjadikan lahan basah sebagai habitat,sebagian lagi menjadikan ini hanya sebagai tempat persinggahan untuk mencari makan. Atas dasar ini, lahan basah telah menajdi bagian penting dalam lingkungan wildlife.
  • Sebagai pengontrol abrasi bibir pantai & tepian sungai, didukung oleh karakter vegetasi lahan basah (seperti bakau, rambai, eceng gondok). Sistem perakarannya dapat memperlambat kelajuan air dan mereduksi energi gelombang, sementara batang & daunnya memperlambat arus air. Pada beberapa tipe lahan basah, walaupun tidak bervegetasi (seperti saluran irigasi), kemiringan alami lahan basah dapat menjadi buffer untuk erosi tepian sungai.
  • Sebagai pelindung banjir, lahan basah dapat memperlambat sekaligus menjadi tempat penyimpanan sementara air hujan (untuk rawa lebak) dan dari daerah hulu serta air pasang (untuk rawa pasang surut). Kemampuan vegetasi lahan basah untuk memperlambat arus air dikombinasikan dengan kemampuannya sebagai lahan serapan sangat menentukan keberhasilan dalam mereduksi debit air yang datang. Peran ini dijalankan oleh semua bentuk lahan basah, kecuali sistem pantai terbuka.
Terkait dengan peranan lahan basah di Kalimantan Selatan, ini dipengaruhi oleh beberapa parameter di mana dengan tipe lahan basah didominasi oleh rawa yang merupakan tipe lahan basah dengan fungsi dan keunikan yang khas. Untuk penilaiannya, saya mencoba menggunakan sistem skor sebagai indikator dengan rentang (1) berarti sangat jelek sampai dengan (10) yang berarti sangat baik untuk masing-masing peran di atas.
  1. Sebagai pengontrol kualitas air ( skor 7)
    Secara umum, fungsi ini masih dapat berperan dengan cukup baik. Khususnya daerah rawa di Kalsel yang masih memiliki eceng gondok serta tanaman iar laninya dengan jumlah seimbang untuk ekosistem lokal rawa. Tanaman-tanaman ini mampu mereduksi kandungan logam berat yang terdapat dalam perairan. Meski di lapangan fungsi ini tampak sedikit menurun daya dukungnya akibat kuantitas polutan yang juga semakin bertambah.
  2. Sebagai pengisi air tanah ( skor 8)
    Peran ini masih dapat berjalan dengan baik. Sebagai contoh pada beberapa tempat, seperti Banjarbaru sampai Martapura, terdapat kandungan air tanah dalam jumlah memadai yang mana lahan basah berupa Sungai Martapura dan daerah Tungkaran memegang peranan penting dalam pengisian dan pelepasan air tanah.
  3. Sebagai habitat ikan dan organisme liar ( skor 8)
    Secara umum, fungsi ini juga berjalan dengan baik di mana pada beberapa daerah seperti Pulau Kaget dan Pulau Kembang, peran ini terlihat dominan. Meski tisak begitu beragam, fauna seperti kera, burung dan ikan-ikan kecil dapat hidup dengan baik tanpa ada faktor pengancam yang bisa memberikan dampak serius.
  4. Sebagai pengontrol abrasi (skor 7)
    Pada beberapa tempat, peran ini nampak berjalan dengan baik karena vegetasi-vegatasi yang ada masih mampu melakukan fungsinya dalam mereduksi energi gerakan air. Walaupun dalam sebelumnya terjadi penurunan daya dukung untuk peran ini, dalam beberapa tahun belakngan telah dilakukan sejumlah upaya perbaikan dengan penanaman vegetasi seperti pohon bakau dan pohon rambai di pinggiran pantai dan muara yang langsung berbatasan dengan perairan yang memiliki energi gelombang lumayan besar, seperti di daerah Pulau Kaget,
  5. Sebagai pelindung banjir (skor 6)
    Fungsi tidak berjalan dengan baik. Seiring dengan semakin gencarnya penebangan hutan di hulu Pegunungan Meratus, maka air hujan yang jatuh di bagian hulu mengalir dengan deras ke bagian hilir sehingga banyak lahan basah, khususnya yang ada di bagian hilir, berada di ambang daya dukung dalam menampung air aliran ini. Akibatnya, daerah hilir seperti Banjarmasin, wilayah Tanah Bumbu hingga beberapa wilayah Hulu Sungai seringkali rawan banjir.
2).
Diketahui :
Curah hujan rata – rata di Peg. Meratus 1000 M liter/bulan,
80 % menjadi air larian = 80 % x 1000 = 800 M liter/tahun = 800.000.000 liter/bulan
= 9.600.000.000 liter/tahun.
Dari keseluruhan volume ini, 1.800.000 liter/tahun di antaranya mengalir melalui Sungai Riam Kiwa.
dari S.Riam Kiwa, bisa terairi 100 hektar lahan (masing-masing 9000 liter/tahun),
9.000 liter/tahun x 100 = 900.000 liter/ tahun air digunakan untuk mengairi lahan,
sisa 900.000 liter/tahun lainnya terevaporasi dan evapotranspirasi.
Perbandingan debit air yang mengairi lahan dengan yang terevaporasi & evapotranspirasi 1 : 1
Dari volume keseluruhan, tersisa 9.598.200.000 liter/tahun mengalir ke Sungai Riam Kanan,
Sungai Amandit, Sungai Batang Alai, Sungai Alabio, dan Sungai Tabalong (perbandingan debit
air 1:1:1:1:1), yang mana untuk masing-masing sungai, 9.598.200.000 liter / 5 = 1.919.640.000
liter / tahun.
Jika perbandingan volume air yang terevaporasi dan terevapotranspirasi dengan volume air yang mengairi tiap-tiap sungai sama dengan yang terjadi pada sungai Riam Kiwa (50% : 50%), maka volume yang terevaporasi & terevapotranspirasi adalah
50% x 1.919.640.000 liter = 959.820.000 liter/tahun
Untuk peranan vegetasi dalam melakukan evapotranspirasi pada masing-masing sungai, dimana perbandingan total evaporasi dan evapotranspirasi adalah 1 : 2, maka dengan total volume evaporasi dan evapotranspirasi 959.820.000 liter/tahun,
  • volume yang terevaporasi untuk setiap sungai : 1/3 x 959.820.000 = 329.940.000 liter/tahun
  • volume yang terevapotranspirasi : 2/3 x 959.820.000 = 639.880.000 liter/tahun.

3). Perbedaan antara rawa lebak dan rawa pasang surut adalah sebagai berikut :
  • Untuk rawa pasang surut :
        • Ketinggian air yang menggenangi dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
        • Airnya payau, bahkan pada saat pasang naik, bisa menjadi asin. Tergantung pada letaknya dari laut.
        • Letaknya tidak begitu jauh dari laut. Kalaupun agak jauh, masih dihubungkan dengan sungai yang langsung bermuara ke laut.
        • Vegetasi yang utama adalah tanaman bakau, nipah (tanaman dengan sistem perakaran yang mampu memecah ombak).
  • Untuk rawa lebak (tergenang) :
        - Ketinggian air relatif tetap, kecuali pada kondisi musim dengan curah hujan sangat tinggi. Tapi meski ada perubahan, tidaklah signifikan.
        - Airnya tawar dengan pH normal.
        - Letaknya jauh di daerah hulu, tertutup (tidak terhubung dengan laut) dan umumnya terletak di dareah cekungan.
        - Biasanya ditumbuhi vegetasi berkayu, juga eceng gondok dan kangkung yang merupakan tanaman dominan.

02.15